Tugas Metodologi Studi Islam
Nama : Lhana Pertiwi
NIM : 175231030
Kelas : Perbankan Syariah 2A
Mata Kuliah : Metodoligi Studi Islam
Suasana
Tinggal di Pondok pesantren selama 24 jam
Pondok
Pesantren di daerah Jawa memanglah banyak dan tidak hanya diminati oleh
masyarakat jawa saja. Banyak orang – orang dari luar Jawa yang ingin
memperdalam ilmu agamanya dan memilih tinggal di Pondok Pesantren. Ada juga
yang memberi julukan bahwa pesatren adalah penjara suci. Karena memiliki
peraturan – peraturan yang membatasi ruang gerak santrinya. Namun peraturan
tersebut ada untuk kebaikan santrin sendiri, semua kegiatan sudah terjadwal
agar para santri menjadi disiplin dan lebih mandiri. Salah satu contohnya
seperti ada jam tersendiri untuk menyetrika baju dan harus mengantri terlebih dahulu
sebelum menyetrika.
Pondok
Pesantren sendiri sekarang ini ada dua jenis yaitu pondok tradisional dan
pondok modern. Pondok tradisional dapat dicirikan sebagai berikut, yaitu jika
masuk ke wilayah pondok terdapat masjid atau mushola sebagai gerbang atau
pendopo. Lalu mengenai ijazah tidak seperti sekolah pada umumnya yang mendapat
ijazah tertulis, ijazah dalam pondok
tradisinonal di dapatkan secara lisan. Juga dalam soal makanan biasanya para
santri sendiri yang akan memeyik sayur atau membeli sayur, kemudian memasak
sendiri dan di makan secara bersamaan dengan nampan atau tampah, satu tamapah
bisa sampai 4 atau 5 orang. Pondok pesantrennya lebih menonjolkan kesederhanaan
dan sikap para santri yang lebih menghormati kyai atau gurunya.
Pondok
modern dapat dilihat cirinya dengan jelas seperti dari segi fisik bangunan,.
Pondok pesantren tersebut umumnya memiliki sistem seperti sekolah formal. Lalu
menggunakan buku – buku yang baru atau kontemporer tidak menggunakan kitab
kuning. Lebih menenkankan penggunaan bahasa arab dan inggris dalam percakapan.
Juga pemahaman atau pengguasaan kitab kuning nya kurang. Lalu dalam hal makanan
sudah catering, yaitu disediakan oleh
penggurus pondok ataupun yayasan.
Pada
inti nya pondok pesantren merupakan tempat sangat tepat untuk menimba ilmu
agama agar dapat lebih mendekat diri kepada Allah. Dan setelah lulus dari
pondok dapat memanfaatkan ilmunya dengan menyebarkan ilmu dan kebaikan kepada
lingkungan sekitarPondok pesantren membina santri memiliki sikap yang sopan
santun, disiplin, mandiri dan tentunya unggul dalam bidang agamanya.
Pada
akhir bulan februari kemarin, saya telah mendapat tugas untuk live in pesantren
selama minimal 24 jam. Sebelum seblum hari h berangkat telah dibagi kelompok –
kelompoknya. Satu kelompok terdiri dari 5 orang dan di kelas ada 35 mahasiswi jadi ada 7 kelompok
yang berbeda dan harus live in di pondok pesantren yang berbeda juga. Sebelum
juga diberi kesempatan untuk survei lokasi pesantren, dan di kelas saya
mendapat wilayah pesantren di kota
Boyolali dan Klaten. Tapi ada persyaratan lain yaitu tidak boleh ada yang sama
pondok pesantrennya dan juga yang pernah mondok tidak boleh live in di pondok
yang sama. Atas rekomendasi dari teman sekelompok yang pernah tinggal dan
menuntut ilmu di pondok pesantren daerah kacangan, Boyolali.
Saat
survei saya berangkat dengan empat anggota kelompok saya dan satu kelompok
lain. Perjalanan survei dimulai hari selasa siang setelah mata kuliah
berlangsung. Karena di tambah kelompok sebelah, jumlah orang yang berangkat
survey di pondok daerah kacangan Boyolali menjadi 10 orang berboncengan
menggunakan 5 kendaraan bermotor. Saat perjalanan berangkat survey ada dua opsi
atau dua pilihan jalan untuk kesana yaitu jalan yang halus dan jalan yang
berlubang. Semua melewati opsi pertama yaitu jalan yang halus dan ternyata
jalannya memakan waktu yang cukup lama yaitu lewat daerah Simo.
Setelah
melewati jalan yang panjang dan katanya halus namun setelah dirasakan sama saja
dengan jalan berlubang. Sampai lah di pondok pertama yaitu pondok yang nantinya
di tempati kelompok sebelah. Disana karena “Ibu” sedang keluar jadi kita
ngobrol dengan Lurah pondok putrinya (Lurah : kalau di SMA seperti ketua Osis).
Oleh lurah tersebut di kenal pondoknya ditanya
maksud tujuan datang ke pondok tersebut untuk apa. Namun saya lupa nama
pondoknya apa. Karena tidak ada yang memutuskan boleh atau tidaknya live in
saat itu. Dan kata Lurahnya akan ditannyakan dulu kepada “Ibu”nya. Jadi
semuanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke pondok selanjutnya. Namun
sebelum lanjut ditawari sholat ashar disana dan setelah selesai sholat
semuannya, menuju ke pondok yang kedua.
Pondok
kedua adalah pondok yang saya tempati untuk live in. pondok ini berada di
kawasan yang sama dengan pondok pertama namun jaraknya yang agak jauh sedikit.
Nama pondoknya adalah pondok pesantren Darussalam. Seletah sholat ashar di
pondok pertama, lalu menuju pondok Darussalam. Kita parkir di depan pondok
tersebut, lalu masuk ke pondok dan diberi arahan oleh pengurus disana. Sama
dengan pondok sebelumnya, giliran kelompok saya ditanya – tanya maksud dan
tujuan ke pondok tersebut apa. Berapa orang yang mau live in disana. Dan yang
sama lagi yaitu ibu Nyai nya juga sedang keluar. Jadi kita ngobrol dengan
penggurusannya saja.
Dan
sebelum pulang “Ibu Nyai” datang dan semuanya menyalami sambil berjabat tangan.
Karena takut menggannggu mungki lelah setellah keluar, penggurus nanti akan
menyampaikan maksud dan kedatangan saya dan kelompok saya. Dan akan diberi
kabar setelahnya. Kemudian saya dan yang lain pamit pulang karena takut kemalaman saat dijalan.
Dan memilih opsi kedua yaitu jalan yang jelek berlubang lewat wilayah bandara
Adi Soemarmo. Dan benar, jalannya lebih cepat dari jalan berangkat tadi, dan
sampai di daerah kartasuro saat adzan maghrib.
Sebelum
saya dan yang lain live in, meminta surat izin atau surat pengantar keterangan
observasi dari akademik FEBI. karena aa yang salah maka mengulang atau revisi
sampai tiga kali. Dan yang ketiga baru diterima oleh akademik. setelah membuat
surat dan meminta tanda tangan sebagai bukti diberikan izin untuk menhinap di
pesantren. Ada perwakilan kelompok yang ke pesantren lagi untuk minta kejelasan
dan membawa surat izin dari Fakultas. kelompok saya diwakili dua orang dan saya
tidak ikut. kendala ada di kelompok lain di pondok pertama namun sudah diberi
izin oleh pengurusnya dan nantinya dapat live in disana.
Tibalah
pada tanggal 15 bulan Maret 2018 setelah mata kuliah hari kamis selesai, saya
pulang ke rumah dan menyiapkan baju dan barang yang akan dibawa serta digunakan
dalam kegiatan di pondok pesantren.
Setelah semua siap karena sebelumnya sudah diberi tahu akan berkumpul dulu di
kos teman, saya langsung berpamitan kepada ibu yang ada di rumah. Sedangkan
dengan ayah, saya sudah berpamitan pagi hari saat mau berangkat ke kampus.
Setelah itu saya langsung mengendarai motor ke kos teman. Dan berangkat bersama
menunuju kacangan, Boyolali.
Perjalanan
ditempuh dengan waktu sekitar satu jam. Dan sampai pertama kali, di pondok
pesantren kelompok pertama. Lalu tinggalah kelompok saya melanjutkan perjalanan
ke pondok pesantren Darussalam. Tiba disana pada saat ada kajian, saya dan
anggota kelompok lain menunggu sebentar dan baru di suruh ketika Lurah putri
disana datang. Setelah ngobrol sebentar lalu diajak ke ruangan seperti ruang
transit. Ruang tersebut merupakan penyambung ruang pengurus - pengurus pondok.
Ruang tersebut digunakan untuk menyetrika pakaian.
Setelah
ngobrol sebentar dan sholat ashar diajak mbk Lurah nya berkeliling di pondok
tersebut. Pertama di ajak ke satu bangunan yang masih satu tempat dengan ruang
transit, disana ada 2 lantai. Lantai pertama digunakan untuk mushola ruanh
penggurus dan ruang transit. Sedangkan lantai kedua digunakan untuk kamar -
kamar santri, jumlahnya ada 5 kamar di gedung ini. Dan di atap gedung tersebut
digunakan untuk menjemur pakaian para santri, dan ada yang menggunakan untuk
belajar bersama ataupun melihat pemandangan di luar pesantren dari atap gedung
tersebut.
Di
atap gedung karena pemandangannya bagus, lurah putrinya menawarkan untuk berfoto
terlebih dahulu. Disela-sela foto teman saya menyakan seputar kegiatan apa saja
yang berlangsung di pondok pesantren tersebut. Jadi saya dan teman – teman yang
lain sejenak beristirahat dan berbincang - bincang dengan pemandangan matahari
terbenam. Setelah itu barulah terdengar suara adzan dan mulai turun dari atap
atau loteng tersebut. Saat disana bertepatan dengan saya yang sedang uzur atau
haid, jadi saat yang lain sedang sholat maghrib disambung tadarus atau deresan
dan langsung sholat isya dan lanjut tadarusan lagi saya hanya dudk di tempat
transit. Dan di tempat saya tersebut digunakan sebagai tempat ujian menghafal
ayat al-Quran.
Setelah
selesai kegiatan diatas, saya langsung berpindah tempat, untuk menaruh barang
dan tidur. Ternyata kelompok saya diberikan tempat untuk beristirahat di ndalem
atau rumah ibu Nyai dan keluarganya. Sedikit terkejut karena saya dan teman –
teman yang lain kesana meminta diperlakukan layaknya santri namun malah seperti
tamu. Saya menginap di pondok bersama teman – teman yang lain pada hari kamis
jumat, kegiatan pada hari itu sedang libur jadi setelah beristirahat dan makan.
Saya dan teman – teman yang lain diminta ikut bersama ”Ibu” untuk mengunjungi
tempat pengajian atau tempat untuk belajar ngaji warga di daerah tersebut.
Saying
beserta teman lainnya, mengikuti ibu dengan berjalan kaki arena jarak tempat
untuk tadarus dan penyampaian kajiannya tidak terlalu jauh. Sempat berhenti
pula saat sampai di bagunan masjid yang sedang di renovasi. Ternyata itu
merpakan masjid Darussalam milik pondok pesantren Darussalam yang saya dan
teman – teman tempati untuk 24 jam. Tadarusan bersama di daerah tersebut
berlangsung seperti arisan PKK atau arisan keluarga yang tempatnya bergiliran
di rumah – rumah jamaah. Sangat mengangumkan karena di jaman sekarang ini yang
serba modern dan individualis, masih ada kegiatan - kegiatan seperti itu dan
banyak pula warga – warga yang hadir ikut berpartisipasi.
Tempat
tadarusan tersebut berada di rumah warga yang sederhana namun mampu menampung
sekitar 25 orang lebih jamaah kajian ba’da isya tersebut. Kegiatan yang
dilakukan disana bukan cuman tadarusan, namun ada juga sedikit kajian kitabnya.
Saat itu membahas mengenai kepemilikan nama Muhammad. Orangtua yang memiliki
anak menggunakan atau ada Muhammad nya memiliki resiko yang besar karena jika
anak itu pintar, nantinya akan pintar sekali. Jika nakal maka anak tersebut
akal sangat nakal juga. Begitu kata bapak ustad disana.
Setelah
kegiatan tersebut selesai saya, teman – teman yang lain, Ibu, dan mbak lurah
kembali ke Pondok pesantren. Sampai di pondok saat itu sekitar jam setengah
sepuluh malam, dan malam kegiatannya bebas sehingga para santri diperbolehkan
untuk jajan diluar pondok. Saya dan teman lainnya dudk bersantai di depan
pendopo sambil berfoto – foto. Setelah waktu menunjukkan pukul sepuluh malam,
saya dan teman teman lain naik keatas
untuk beristirahat malam.
Dan
pagi harinya sekitar pukul empat pagi, mbak Lurah sudah mengetuk pintu kamar
untuk memberi tahu akan ada sholat subuh berjamaah dengan Ibu. Lalu setelah siap
– siap teman – teman yang lain turun untuk sholat berjamaah di mushola bersama
ibu Nyai dan para santri lainnya. Setelah itu karena ada yang harus berangkat
sekolah, para santri yang sekolah untuk bersiap – siap dan yang tidak sekolah
mengikuti tadarus Quran bersama Ibu. Setelah kegiatan tersebut lalu saya dan
teman yang lain naik lagi ke atas untuk bersiap – siap untuk observasi lagi
pada jumat pagi tersebut.
Selesai
bersiap – siap saya dan teman – teman turununtuk ikut serta kerja bakti di
belakang pondok pesantren. ternyata dibelakang pondok tersebut terdapat satu
tower menjulang tinggi. Setelah 30 menit lebih kerjabakti di halaman belakang,
kita dipersilahkan sarapan terlebih dahulu. Setelah sarapan lalu kita keluar
melihat anak – anak TK dan SD yayasan El – Zahwa yang bangunannya tepat berada
di depan pondok pesantren. setelah cukup lama, saya dan teman – teman
berpamitan untuk pulang karena ada pemberitahuan kelas lain kalu mata kuliah
terakhir dosennya datang. Karena kelompok yang ada di pondok sebelah juga akan
pulang pada jam yang sama, saya dan anggota kelompok saya berpamitan dan
berfoto bersama dengan Bu Nyai, para mbak – mbak penggurus, dan santri – santri
lain. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke kartasura
Refleksi
saya sebagai Mahasiswi terkait kehidupan di pesantren sangatlah menganggumkan. Saya
sebagai orang awam, yang dari SD sampai SMA bersekolah di sekolah Negeri,
hanaya dengan mendengarkan tadarus bersama para santri yang sangat membuat
kagum dan merinding. Sangat berbeda sekali dengan kehidupan di masyarakat awam
pada umumnya. Kesan yang saya dapat pertama sangatlah berbeda saat sudah
menetap disana. Pertama kali saya datang saya merasa takut ketika survey
melihat lingkungan yang barru tersebut. Namun setelah tinggal ternyata orang –
orang disana sangat lah membatu saya dan teman yang lain untuk memenuhi tugas.
Tidak buruk juga tinggal di pesantren, karena nantinya kita akan diajari untuk
lebih disiplin dan mandiri. Orang – orang yang ada disana seperti damai karena
mengutamakan kepentigan akhirat walaupun tidak meninggalkan keentingan dunia
pula. Sangat mengesankan sekali pengalaman tinggal disana walau hanya 24 jam.
![]() |
| tampak depan Pondok Pesantren |
![]() |
| Pendopo Pondok Pesantren |
![]() |
| mushola |
![]() |
| pemandangan diatas loteng pondok |
![]() |
![]() |








Komentar
Posting Komentar